Mens Sana In Corpore Sano

Arab Springs Dan Gerakan Mahasiswa Sedang Dipermainakan Untuk Membakar Emosi Rakyat Indonesia Oleh Political Mens Rea.

gambar ilustrasi
*Arab Springs Dan Gerakan Mahasiswa Sedang Dipermainakan* 
Untuk Membakar Emosi Rakyat Indonesia Dgn Political Mens Rea.

*"Mari kita bersama demi kedaulatan rakyat untuk bersama-sama menghimbau pemerintah untuk  menumpas gerakan ini karena sangat berbahaya dan bisa merubah Indonesia menjadi luluh lantak bahkan Kita Sekarang sudah harus mulai waspada Terhadap para politisi yang Masih menggunakan jargon Khilafah islamiyah karena faham ini selalu membawa - bawa agama dalam mengalahkan akal Sehat rakyat Indonesia. Tetaplah berpegang pada Pancasila dan nasionalisme." Tito Gatsu*

*Di era pandemi ini Para politikus dan ulama  bajingan yang sekarang* membentuk kelompok  mens rea  di Indonesia kembali melakukan kejahatan dengan memainkan pola Arab springs dan gerakan mahasiswa. 

*Apakah Itu mens rea ?* 
Kita lihat dari mulai para bajingan  yang kebetulan punya gelar intelektual seperti Rizal Ramli, Fadli Zon , Said Didu , Permadi SH, Haekal Hasan  bahkan Ichsanudin Noorsi yang kita tau kesemuanya dekat dengan SBY sudah melakukan provokasi terlebih dahulu melalui medsos. 

*SBY seperti kita ketahui punya strategi yang cukup lihai* pada saat 10 tahun dia memerintah dia merangkul gerakan- gerakan Islam seperti MUI dan FPI kemudian mendirikan pengajian Nurul Salam untuk menampung para Ustad atau ulama yang punya masa , seperti Bahtiar Nasir, Aa Gym , Abdul Somad , dll. Serta berkoalisi mesra dengan  PKS, SBY juga merangkul anggota lembaga independen , seperti Komnas HAM, ICW bahkan KontraS dimana Rachland  Nasidick malah menjadi anggota partai Demokrat. Seperti kita ketahui beliau memeng seorang ahli strategi militer tetapi dalam masa era keterbukaan dan masyarakat sudah semakin cerdas ternyata strategi beliau tidak ada artinya menghadapi nasionalisme masyarakat Indonesia terutama pendukung  Jokowi . 

Mens rea adalah sikap perilaku kriminal disini Saya tujukan pada para elit politik Indonesia dan para ulama bajingan  yang sudah demikian rusak yang sudah menjadi budaya seperti korupsi , menghalalkan fitnah dan menyerang pemerintah dan pendukungnya  yang bisa menghalangi usahanya dalam merampok hak rakyat dan sudah menjadi kebiasaan  bahkan dianggap kebenaran . 

*Begitu siapnya SBY yang menjadi sumber darah atau aliran pembiayaan* bagi para political mainstream atau para pelaku politik penerus Orde Baru mempersiapkan semua sarana untuk menggulingkan pemerintahan dari mulai aktivis, pengamat politik, hingga gerakan mahasiswa yang sudah dibina oleh PKS melalui kegiatan- kegiatan pemuda Islam di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi Negri di seluruh Indonesia melalui tarbiyah PKS melalui liqo-liqo dan organisasi mahasiswa Islam seperti HMI dan KAHMI. 

Para Ustad dan ulama MUI dapat dipastikan sangat setia kepada SBY karena selama 10 tahun mereka dibiayai dari Yayasan yang dimiliki SBY Nurussalam  dan mendapatkan bantuan APBN dan APBD yang jumlahnya tidak sedikit 

Banyaknya warga Negara Indonesia yang terpapar dalam gelombang Arab Springs karena metode para politisi Busuk atau para bajingan politik di Indonesia menggunakan metode yang sama, apa Itu Arab Springs ?
Menghidupkan lagi kehidupan sorga atau islamisme yang berorientasi pada akhirat atau janji sorga jika seseorang sudah memikirkan surga saja tentunya mereka takkan perduli dengan kehidupan dunia Dalam arti tak perduli pemimpinnya akan korupsi atau tidak yang penting kebutuhan mereka terpenuhi itulah yang dialami dan dinikmati oleh para pemimpin agama islam.di era SBY kecuali sebagian besar  ulama NU dan Muhammadiyah.

Kemudian  sebagian besar masyarakat dibawa berpikir ke arah islamisme melalui Arab spring.  Ketika memberi tempat pada PKS  untuk memperluas liqo liqo hingga ke perguruan tinggi dan instansi pemerintah bahkan militer,  kita tau bahwa mantan Panglima TNI Gatot Nurmatyo adalah orang yang setia pada SBY.
Kemudian bersama sama dengan Jusuf Kala  memberikan ruang pada ulama intoleran seperti Zakir Naek dan Jusuf Qardlawi  membina organisasi Islam di Indonesia. 

Banyak orang Indonesia yang tidak faham apa Itu Arab Springs , Arab Springs digambarkan sebagai Gerakan negara Khilafah  yang dimotori oleh kelompok ‘radikal’ , membuai masyarakat awam tentang keindahan sebuah negara islam Khilafah islamiyah, keadilan, kesejahteraan dan lain sebagainya, sampai media barat menamakan gerakan mereka sebagai Arab Spring, musim Semi Arab yang indah, bunga-bunga bermekaran, karena dari sangat indah retorika gerakan mereka. 

Seiring dengan kemajuan teknologi gerakan ini begitu masif menyerang genggaman setiap ponsel  manusia yang tidak hanya di Indonesia bahkan kenegara-negara Eropa , Kita tau berapa banyak warga Negara Indonesia yang terafiliasi ISIS ? Yang pada akhirnya hanya memperoleh kesengsaraan.  (lanjutkan baca menarik sekali...πŸ‘―πŸ‘­πŸ‘‡πŸ‘‡)
Tapi khayalan masuk surga masih ada dalam peluang mereka , yaitu mati syahid ! Bunuh diri atau jihad melawan pemerintah ? Apalagi di era pandemi covid 19 ini tentu jadi alasan paling tepat! 

Mati syahid bisa dengan bom bunuh diri atau melawan pemerintah , misalnya dengan  menuntut Pemimpin turun serta  menentang PPKM dengan tak takut mati padahal mereka menjadi penyebab banyak orang yang meninggal dunia , mereka sendiri menentang karena hanya takut kepada  Allah SWT, sekejam dan sebodoh itukah Allah SWT?  Lalu kenapa diseluruh dunia dilanda wabah Covid 19? Hmmm sungguh tolol cara berpikir mereka! Tapi itulah yang diinginkan para bajingan politik di Indonesia.

Pada umumnya mereka  dibujuk untuk berkhayal bahwa mereka akan mendapatkan nikmat Tuhan karena akan menempati sebuah negara yang makmur dan akan mendapatkan tempat yang baik di Dunia dan akhirat. 

Para ulama yang memotori gerakan ini  tidak hanya mendapatkan segalanya atau uang yang tidak sedikit dari jaringan terorisme dan proxy asing yang mempunyai rencana menguasai sebuah negara atau Indonesia tapi juga  dengan memperdaya umat yang mabuk Agama karena peedebatan berdasarkan gambaran imajiner mengenai jihad dan ridho Allah memang keahlian dari Pemimpin mereka.Sehingga para pengikutnya bukan saja berani berkorban jiwa tapi juga berani mengorbankan harta bendanya melalui donasi- donasi yang mereka berikan. 

Islamisasi bernama khilafah islamiyah, yang akhirnya berdiri di Suriah, Irak, dan Libya. Bahkan Ikhwanul Muslimin yang saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia harus kecewa karena negara-negara tersebut luluh-lantak akibat kekacauan. 

Keberhasilan kelompok radikal di sana menjadi semangat jejaring mereka di Eropa, Afrika, Asia, Australia, bahkan sampai ke Indonesia.
Kita harus waspada bahwa gerakan inipun menjadi musuh terselubung pemerintah Indonesia selama ini. 

Pertama, soal politisasi agama. Hal ini terjadi juga di Indonesia. Gerakan mereka selalu mengatasnamakan umat dan Tuhan, gerakan mereka seolah membela Tuhan dan umat Islam, serta menjadikan simbol-simbol Islam sebagai basis gerakan mereka. Misalnya, di Damaskus, mereka menggunakan Masjid Jami’ Umawi sebagai markas demonstran, 

Sedangkan di Indonesia, ada masjid Istiqlal yang sering dijadikan titik kumpul demo-demo yang dilakukan di Jakarta. Masih ingat, bagaimana khutbah Jumat di masjid-masjid mereka gunakan untuk propaganda kebencian pada pemerintah? Jika Yusuf Al Qardlawi pimpinan Ikhwanul Muslimin pernah menyerukan “Jumat al-Ghadab” Jumat kemarahan, apa bedanya dengan di Indonesia dengan para Ustad yang selaku melontarkan kebencian kepada pemerintah dan menentang PPKM.dengan alasan menekan umat islam  ? Mereka pada hakekatnya bukan ulama tapi sama saja dengan politikus busuk yang dimulutnya saja hanya ada provokasi dan tak pernah memberikan tauziah secara damai. 

Kemudian  melakukan pembunuhan karakter pada ulama, ulama yang memang ulama, Masih ingat, bagaimana Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, ulama besar yang karyanya bertebaran di perpustakaan kampus Islam dunia, fatwa-fatwanya menjadi rujukan ulama dunia, yang wafat di masjid al-Iman Damaskus saat pengajian tafsirnya berlangsung. Al-Buthy dan 45 orang lainnya harus terbunuh hanya karena berbeda pandangan politiknya. 

Al-Buthi dianggap “penjilat istana” dan dianggap sebagai pengikut Syiah, padahal Al-Buthi adalah ulama Aswaja, ceramah dan karyanya getol menyuarakan Aswaja, hanya karena pandangan kebangsaannya, beliau harus terbunuh. 

Lalu, bagaimana di Indonesia? Kurang lebih sama, ulama dibunuh karakternya, Prof. Quraish Shyihab adalah salah satunya. Mereka menuduhnya sebagai seorang syiah, Kiai Mustafa Bisri dituduh liberal, begitu juga Kiai Said Agil Siradj, dituduh Syiah dan liberal, yang berseberangan pandangan politiknya dihabisi, difitnah, ingat kasus TGB Zainul Madji? Tokoh yang awalnya mereka puja, karena pandangan politiknya berubah, mereka memfitnahnya sedemikian rupa. 

Yang kemudian mereka lakukan adalah dengan beternak ustadz-ustadz abal-abal yang lebih menghibur. Padahal, mereka tidak memiliki keilmuan agama yang mumpuni, baca ayat saja salah. Lalu, pantaskah ustadz semacam ini dijadikan teladan?. 

Ketiga adalah melakukan propaganda dan seruan ketidakpercayaan pada pemerintah. Di Suriah, Basyar al-Assad dituduh Syiah, dituduh kafir dan membantai kaum sunni. Sedangkan di Indonesia, Jokowi dituduh anak PKI, keluarganya dituduh sebagai Kristen, sama, bukan? 

Begitu juga dengan ketidakpercayaan pada sistem dan pelaksana negara. Mereka menawarkan “Teko ajaib” bernama khilafah islamiyah sebagai solusi dari sistem demokrasi. Masalah apapun yang ada di Indonesia, solusinya adalah Khilafah Islamiyah, dengan melemahkan sistem dan pelaksana negara di Indonesia. Misalnya, ancaman pembunuhan pada empat tokoh bangsa pada kerusuhan Mei 2019 kemarin serta penusukan Wiranto adalah bukti nyata bahwa ada pola yang sama antara Suriah dan Indonesia. 

Di Suriah ada jargon tertentu yang selalu diteriakkan, seperti al-sha’b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar), di Indonesia juga sama, apapun demonya, intinya tetap turunkan Presiden Jokowi. 

Polanya sangat mirip, jika tidak boleh dikatakan sama. Suriah saat ini luluh lantak karena membiarkan dan terlena pada gerakan ‘radikal’ tersebut. Jangan sampai di Indonesia terjadi seperti Suriah. 

Kemudian mereka memanfaatkan gerakan mahasiswa karena dianggap gerakan intelektual yang murni dalam masa pemerintahan SBY pun sudah dipersiapkan corong corong independen seperti komnas HAM  ICW dan hampir semua lembaga independen dikuasai para mens rea atau political mainstream. 

Seperti kita ketahui di jaman Orde Baru Soeharto menggunakan Gerakan mahasiswa untuk melegitimasi politik menghancurkan lawan , kita tau aktivis 66 yang membantu melegitinasi Supersemar sehingga sukses menjatuhkan Bung Karno kemudian dia bisa menyusupakn seorang Rizal Ramli sehingga menggagalkan Gerakan mahasiswa tahun 1978 dan SBY bisa  menyisipkan Andi Arief, Fadli Zon , dll yang akhirnya menjadi pendukung para political mainstream seperti sekarang ini. 

Saya tetap salut dengan rakyat Indonesia yang sebagian besar begitu nasionalis dan cerdas sehingga akal busuk mereka selalu kalah, kecuali di Jakarta ketika mereka berhasil mengangkat Gubernur DKI dengan fitnah yang luar biasa dan metode Arab Spring yang sukses sesaat, itupun gagasan SBY yang gagal total memajukan AHY menjadi Gubernur DKI Jakarta karena diantara kelompok Political mainstream  tak ada yang berjiwa kesatria diantara mereka saja saling tipu sehingga Anies sukses menjadi Gubernur Ayat Mayat yang menipu rakyat. 

Jadi pemimpin itu harus didukung rakyat dan rahmat Tuhan pak SBY!. 
Salam kedaulatan Rakyat 
Tito Gatsu.

About top

0 Post a Comment:

Posting Komentar